Lika-liku Sarah Tsunami demi Kacamata Kedua, Melawan Kebutaan

Setelah pembaca mengetahui sosok Sarah Tsunami itu siapa? Kini, masih tentang anak tersebut, disajikan sebagai artikel lanjutannya, "Lika-liku Sarah Tsunami demi Kacamata Kedua, Melawan Kebutaan". Selamat membaca ...

Pertengahan Agustus 2014 telepon genggam Nurhadi, Ketua Harian DPW LSM CADAS (Ciri Aspirasi Dari Abdi Sanagara) di Sekretariat Jl. Diponegoro No. 23 Bandung berdering. Di seberang sana Juju Juariah (43), berkeluh-kesah perihal nasib putrinya Sarah Tsunami (8) penyandang keterbatasan penglihatan, low vision.
Lika-liku Sarah Tsunami demi Kacamata Kedua, Melawan Kebutaan
“Penglihatan Sarah makin menurun. Bacaan huruf di buku tak jelas lagi. Belum lagi harus beli seragam sekolah. Mau ke Cicendo (RS Mata - red) Bandung, tak punya ongkos. Padahal, waktunya ganti kacamata sudah cukup lama lewat. Harus gimana ya, makan sehari-hari saja susah …”, keluh Juju sendu yang tuna netra sejak usia kelas 3 SD. Belakangan, keluhan Juju ini disadari, tak lain – ingin bersegera mengobati mata putrinya, Sarah lebih jelas membaca buku!

Keluarga Sarah kini tinggal di rumah semi permanen berukuran kira-kira 40 meter persegi berlantai tanah padat bersama ibu dan ayahnya Utan (63), buruh tani serabutan. Kakak tirinya Supriatin (17) jebolan SMP kelas satu, yang tinggal serumah pun masih coba-coba mencari pekerjaan.

Praktis, penghasilan keluarga ini hanya mengandalkan keterampilan Juju sebagai pemijat panggilan. Rumah ini, letaknya sekitar 5 kilometer dari area rumahnya terdahulu yang hancur diterjang tsunami 8 tahun lalu. Tepatnya mereka tinggal di Kampung Bantarsari, Desa Bojong, Kecamatan Parigi, Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat.

Sarah kini sudah duduk di kelas dua SDN 2 Bojong di Kecamatan Parigi, Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat. “Saya pengen baca buku banyak-banyak sekali. Tapi kepala Sarah kenapa ya suka puyeng ...?”, itu katanya pada bulan Januari 2014 lalu kala pertama kali memperoleh bantuan kacamata tebal berspesifikasi plus 11,5 dan minus 1,5 dari RS Mata Cicendo Bandung.

Celotehan Sarah tentang matanya terlontar ketika LSM CADAS dan beberapa relawan sempat mengantarkan keluarga ini rekreasi ke Kebun Binatang Bandung (KBB). Sebelumnya, memang ada semacam “nazar” Sarah ketika mengurus sumbangan kacamata pertama pada bulan Januari 2014:”Kalau sudah punya kacamata, aku mau ke Kebun Binatang Bandung, lihat maung (harimau) dan gajah, juga ular besar. Pasti rame ya?”.

Nazar Sarah sudah kesampaian, walaupun saat ke KBB masih belum berkacamata, karena untuk memakainya harus menunggu pembuatannya yang memakan waktu paling sedikit seminggu lamanya. “Yang penting Sarah bisa naik gajah di kebun binatang. Ini akan jadi bahan dongengan menarik baginya. Bisa bercerita ke teman-temannya”, kata salah satu relawan Diah Puspitasari Momon mitra LSM CADAS yang pernah memfasilitasi Sarah selama di Bandung.

Gudar-Gedor
Tersebab keluhan terakhir Juju kepada Nurhadi, sontak beredar kabar diantara pengurus dan anggota LSM CADAS hari itu yang selama ini giat memperjuangkan hak sipil dan lingkungan hidup – Bagaimana mengupayakan agar keluarga Sarah bisa ke Bandung?

“Kalau sudah disini, kita bisa gudar-gedor (upaya darurat) mengetuk banyak kalangan”, kata Nurhadi dengan mimik sedikit kesal karena keterbatasanya. Masalahnya, bagaimana segera menghadirkan Sarah di Bandung?

Berhari-hari perihal penglihatan Sarah yang kembali mengeluh sehubungan kacamata pertamanya yang seharusnya diganti sejak Juni 2014 menjadi bahan keprihatinan anggota di lingkungan LSM CADAS. “Bawa atuh ke (RS Mata - red) Cicendo lagi. Tapi siapa ya, yang bisa bawanya dari Pangandaran. Kita belum punya jaringan kuat disana ...?!”, ungkap Dikdik yang diamini Mang Cadox yang sudah paham siapa Sarah.

Diantara kebuntuan ini, timbullah solusi. Beberapa hari kemudian Juju oleh pengurus LSM CADAS disarankan menghubungi Plt Bupati Pangandaran, Endjang Naffandy.”Kami ini orang kecil, masa bisa ke rumah Pak Bupati segala. Tapi demi Sarah, akan dicoba”, kata Nurhadi menirukan suara Juju mereaksi sarannya.

Ambulans
Singkat kisah setelah beberapa kali Juju bolak-balik ke rumah Plt Bupati Pangandaran tentu dengan “modal nekad” segala, akhirnya ia diterima oleh istrinya Hj.Rd. Neneng Naffandy, Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Pangandaran. “Pak, kami akan ke Bandung diantar mobil dari Pak Bupati. Tunggu besok pagi kami di Bandung ya”, jelas Nurhadi kembali menirukan suara Juju yang diutarakan melalui telepon genggam jadoelnya di Pangandaran.

Tunggu punya tunggu, kehadiran Sarah dan keluarganya di Bandung ternyata tak semulus yang dikira. Setelah tertunda beberapa kali, akhirnya Sarah tiba di Sekertariat LSM CADAS Bandung (2/9/2014). Belakangan diketahui melalui Ee Rahto, pengantarnya yang ditugaskan Plt Bupati Pangandaran:”Perjalanan ke Bandung banyak tertunda. Tadinya, malah mau diantar pake ambulans. Dipikir-pikir, kondisi Sarah sendiri tak begitu mengkhawatirkan. Diundurlah, sampai dapat pinjaman sedan ini”, jelas Ee yang ternyata adalah guru kelas enam di SDN 2 Bojong tempat Sarah bersekolah.

“Saya ditugaskan oleh Ibu Bupati, utamanya. Tahu persislah, Sarah ini di sekolah termasuk anak yang tekun dan rajin belajar. Sayang, penglihatannya terkendala. Kami semua prihatin”.

BACA JUGA:
Sarah Tsunami, Siapa?
5 Ciri-Ciri Low Vision

Comments