Sarah Tsunami, Siapa?

PESAN SPONSOR:
Delapan tahun lalu Sarah adalah orok yang saat itu usianya masih kurang dari 24 jam, dia merupakan satu-satunya yang selamat dari terjangan tsunami kala itu (17/07/2006) di pantai Pangandaran, Jabar Selatan.

Sore itu, Juju sedang mendekap orok merahnya di rumah ‘gubug’-nya dekat tepi pantai, tiba-tiba berselang beberapa detik setelah gempa kuat melanda sekitar pukul 16.00 WIB, mereka diterjang tsunami dahsyat. Tempat tinggalnya sekejap sirna, luluh lantak bersama ratusan penghuni di sekitar pantai ini.

Sedikitnya 500 orang tewas dan ribuan rumah di sepanjang ratusan km pantai Jabar Selatan porak poranda. “Kami terpisah, isteri saya entah dimana, orok Sarah entah kemana. Baru esoknya, kami bisa bertemu dengan isteri. Sedangkan Sarah, ditemukan orang beberapa jam kemudian diantara tumpukan sampah bercampur lumpur dan pasir pantai. Beberapa hari kemudian bayi yang tali pusarnya masih belum lepas sedang di kerubungi orang di tenda darurat”, kata Utan merunut kisah putrinya yang terkenal sebagai bayi ajaib.

Nama Sarah sendiri kata Utan, sebenarnya pemberian dari tokoh Jawa Barat, Eka Santosa anggota DPR RI (2004 – 2009). “Pak Eka sudah ada di Pangandaran dari Jakarta beberapa jam setelah kejadian tsunami. Ia pula yang sempat membawa Sarah dan ibunya dirawat di Cicendo waktu dulu itu”, tutur Utan.

”Benar, Sarah itu dalam bahasa setempat berarti sampah, utamanya daun di pinggir pantai atau hutan. Disambunglah namanya dengan peristiwa tsunami tahun 2006, jadilah Sarah Tsunami. Saya temukan bayi ajaib ini sedang diperbincangkan orang di tenda darurat beberapa hari setelah peristiwa. Segera dibawa ke RSUD Banjar. Selanjutnya bersama ibunya dirawat di RS Mata Cicendo Bandung”, jelas Eka per telepon (14/9/2014) yang kala itu sedang berada di Jakarta.

Bila berkenan dari peristiwa pilu ini, masih ada yang lebih beruntung dari pasangan Utan dan Juju, yakni Supriatin. Supriatin kini telah dewasa, saat kejadian ia sedang berkunjung ke rumah neneknya. “Rumah neneknya memang cukup jauh dari pantai. Ia selamat”, kata Juju dan Utan.

Dirut RS Mata Cicendo dan Tamunya

“Kami ucapkan terima kasih atas bantuan LSM CADAS. Apalagi tadi Sarah sempat dipertemukan dengan Pak Hikmat, Dirut RS Mata Cicendo, juga dengan petinggi Bank Mandiri. Semoga kacamata kedua ini bisa membantu penglihatan Sarah. Kami tunggu Pak kacamatanya kalau sudah selesai, kabari ya?”, demikian ucap Ee pengantar keluarga Sarah ketika berpisah dengan LSM CADAS pada sore hari, 2 September 2014. Sore itu, usai Sarah diperiksa matanya, ternyata bisa langsung kembali ke Pangandaran.

Menurut tim dokter mata di RS Mata Cicendo, kacamata kedua diperkirakan selesai dibuat sekitar seminggu atau sepuluh hari kemudian. Di bagian optik RS Mata Cicendo, Sarah usai diperiksa matanya sempat mengepas bingkai kacamata yang akan dipakai kelak.

Seperti biasanya, kehadiran Sarah selalu mengundang perhatian orang yang mengetahui kisahnya, termasuk kala di bagian optik RS Mata Cicendo. Öh, Sarah sudah besar sekarang. Saya kebetulan tahu dari TV ”, seru salah satu pengunjung RS Mata Cicendo asal Kabupaten Kuningan Jawa Barat.

“Kacamata kedua ini semoga bisa sedikit mengurangi rasa pening saat memakai kacamata pertama. Daya jangkau mata kanan maksimal 4 meter, yang kiri 6 meter, ini umum untuk penyandang low vision. Catatannya, 8 bulan lagi harus ada penyesuaian, dan rutin diperiksa”, kata dr. Astri Avianty dari bagian optik RS Mata Cicendo.

Menariknya, selama pemeriksaannya kali ini selain sempat dipertemukan langsung dengan Dirut RS Mata Cicendo, Dr Hikmat Wangsaatmaja, SpM (K),M. Kes, M.M, selaku penyumbang kacamata pertama dan kedua termasuk pemeriksaan selama ini, juga dipertemukan dengan tamu khusus lembaga kesehatan mata yang sudah berusia lebih dari satu abad.

Taklain tamu khusus itu Ka Kanwil 6 Bandung PT. Bank Mandiri (persero) Tbk, Gunawan:”Sudah lama dengar kisah bocah ajaib yang selamat dari tsunami Pangandaran. Bersyukur, kita dipertemukan. Semoga matanya tambah sehat ya setelah diperiksa tim dokter Pak Hikmat”, sapa Gunawan kepada Sarah di lobby RS Mata Cicendo.

Sarah Tsunami dan orang-orang yang menolongnya

Uniknya, pertemuan ini berlangsung di lobby yang berfasilitas sajian musik live piano. Sesekali perhatian Sarah terbelah antara denting lembut piano yang mengalunkan tembang legendaris “My Way” dengan sesi “pertemuan istimewa” kali itu. Menurut salah satu stafnya, kehadiran Gunawan pada hari itu, lembaga keuangan yang dipimpinnya memberikan sumbangan dana untuk memperlancar kinerja RS Mata Cicendo.

”Kesehatan mata itu penting. Saya terkesan dengan perjuangan para dokter disini yang selalu bersemangat, diantaranya pantang menyerah mengobati penderita katarak di pelosok Nusantara. Sumbangan kami ini kecil saja”, tambahnya low profile sambil membelai rambut bocah ajaib Sarah Tsunami. Bersambung ...


BACA JUGA:
5 Ciri-Ciri Umum Low Vision
SPONSOR BLOG INI:

INGIN IKLAN ANDA DI SINI? HUB: 089627528881


IBX582992C690462