Membangun Desa dengan Keterbatasan TI


Soreang - Cita-cita memang harus setinggi langit, sekalipun keinginan yang dicita-citakan itu melambung. Semua itu bisa terwujud bila takhanya diucapkan, melainkan ada pula tindakan.
Itulah gambaran yang mewakili hampir semua kesan yang disampaikan lewat pemaparan tiga orang nara sumber yang tampil pada acara “Membangun Desa Melalui Teknologi Informasi” kemarin (11/10).

Mengambil tempat di aula PPI-BAPAPSI, serangkaian acara sudah digelar dalam rangka menelusuri sejauh mana pemanfaatan TI sudah berjalan di desa-desa di kabupaten Bandung. Tidak semua desa-desa bisa diundang, Anda bisa bayangkan ada 260 desa se-Kabupaten Bandung.


Acara yang diinisiasi oleh BAPAPSI bekerja sama dengan RTIK Kab. Bandung ini merupakan upaya mempertemukan masyarakat, aparatur desa, komunitas, dan birokrat sehubungan dengan isu Pembangunan Desa memanfaatkan TIK. “Alhamdulillah, hampir semua pihak yang diundang hadir memenuhi acara ini,” ujar Anita Emmayanti, pembina RTIK Kab. Bandung dengan nada puas saat membuka acara.

Acara yang dikemas santai namun fokus ini menampilkan Dadang Setiawan, seorang teknopreneur asal Ciwidey yang sudah berkeliling Indonesia dengan program Galow IT (Gaul sama Onno W. Purbo)-sebagai pembicara pertama. Dalam pemaparannya Kang Dadang menjelaskan bahwa, “Teknologi Internet bisa dimanfaatkan seefektif dan seefisien mungkin.” Dadang pun sempat berujar, “Saya masih ingat awal keberhasilan saya bersama GalowIT itu di Soreang. Maka saat ini cita-cita saya ingin berbagi dengan menyumbangkan ilmu teknologi informasi dan komunikasi ke desa di Soreang.”

Selanjutnya yang tampil di aula yang juga basecamp RTIK Kab. Bandung tersebut adalah Ayi Sumarna. “Kang Ayi ini terbilang sosok yang sedikit bicara tapi banyak aksi,” ungkap Asep Rahmat Sekretaris Desa Ciburial yang hadir menemani Kang Ayi kemarin. Dalam pemaparannya, Ayi menceritakan bagaimana awalnya membangun Desa Ciburial dengan keterbatasan infra struktur tapi ingin memulai menggunakan teknologi informasi dan komunikasi. “Beberapa tahun yang lalu, saya pernah dari rumah turun ke kota (Dago-red) hanya untuk sekadar membuka atau kirim email di warnet,” ujar Ayi.

Dari aksinya yang konsisten akhirnya, desa Ciburial menarik perhatian sebuah perusahaan swasta dari Jakarta yang menghibahkan 26 unit komputer beserta data server-nya untuk dipergunakan pengembangan TIK di Desa Ciburial. “Saat ini kami sudah aktif menampung aspirasi warga dengan memanfaatkan teknologi secara terpusat (masuk ke data center milik Desa Ciburial-red)” Pungkas Ayi.

Acara ini dihadiri lengkap semua elemen masyarakat, sebut saja Komunitas Bumi Hijau, Taman Bacaan Masyarakat (TBM), Koperasi Pondok Pesantren (Al Ittifaq), dan aparatur desa, seperti; kelurahan Sulaiman, desa Pasirhuni, desa Soreang, desa Ciburial, desa Karamat Mulya, desa Lebakwangi, desa Cibiru Wetan, dan desa Pamekaran.
Terakhir, di kelurahan Sulaiman –sebuah kelurahan yang dimiliki ada di kabupaten Bandung didaulat oleh penyelenggara acara ini untuk menjelaskan keberhasilan kelurahannya dalam memanfaatkan TIK. Dalam penuturannya, Elang Nurmansyah, Sekretaris Lurah Sulaiman menjelaskan, “Anggaran yang kami terima setiap bulan dari pemerintah untuk pengembangan TIK sebesar 400 ribu setiap bulan,” Dengan cita-cita serta semangat yang tinggi Elang dan teman-teman di kelurahannya telah berhasil menata dan mengelola TIK untuk di kelurahan meskipun harus merogoh kocek sendiri, pasalny 400 ribu tidaklah cukup untuk pengadaan infrastruktur TIK.

Acara ini dihadiri lengkap semua elemen masyarakat, sebut saja Komunitas Bumi Hijau, Taman Bacaan Masyarakat (TBM), Koperasi Pondok Pesantren (Al Ittifaq), dan aparatur desa, seperti; kelurahan Sulaiman, desa Pasirhuni, desa Soreang, desa Ciburial, desa Karamat Mulya, desa Lebakwangi, desa Cibiru Wetan, dan desa Pamekaran.

Mang Yayat dari TBM Sehati juga mengajak kepala desa baru terpilih, Hilman Ismail untuk turut serta mengikuti acara forum diskusi kemarin. Dalam opini dan harapannya, Hilman sempat berujar, “Menurut saya ini sebuah acara yang sangat bagus sekali. Apalagi sekarang desa dituntut atau tidak lepas dari IT di setiap kegiatannya. Dan mudah-mudahan dengan adanya acara ini kami dari desa (Pasirhuni-red), khususnya desa pesisian dapat mengaplikasikan TI dan mempercepat pembangunan untuk desa kami.”

Infrastruktur boleh terbatas, tapi cita-cita untuk berhasil mewujudkan desa melek TIK perlu diwujudkan tanpa alasan. Semoga Membangun Desa dengan Keterbatasan TI ini bisa menjadi isu menarik dan menjadi perhatian stake-holder terkait.

Comments