Advertisement

BOMA Jawa Barat Menginjakkan Kaki di Museum Konferensi Asia Afrika

BOMA Jabar, Pertama dalam Sejarah - Menginjak Museum Konferensi Asia Afrika Bandung!
“Asa kumaha gening gedong-sigrong ieu, biasana ngan ukur nepi jadi dongeng, bisa didatangan ku kuring – Duh, betapa mengagumkan suasana gedung megah ini, biasa hanya sekedar dongeng, hari ini bisa kami kunjungi” ~ Solahah (46)
Siang itu (15/4/2015) sekumpulan tetua adat yang tergabung pada BOMA (Baresan Olot Masyarakat Adat) Jawa Barat, pertama dalam sejarah menginjakkan kakinya di MKAA (Museum Konferensi Asia Afrika) Gedung Merdeka Bandung. Apa gerangan? 

BOMA Jawa Barat Menginjakkan Kaki di Museum Konferensi Asia Afrika
BOMA Jawa Barat Menginjakkan Kaki di Museum Konferensi Asia Afrika
Tak lain, mereka ini yang hampir seumur hidupnya tinggal di kampung adat yang rata-rata berada di pelosok Jawa Barat - menjaga tata-titi dan nilai kearifan lokal yang bertumpu kuat pada hubungan manusia dengan alam dan Sang Pencipta, hari itu melihat dunia luar! “Asa kumaha gening gedong-sigrong ieu, biasana ngan ukur nepi jadi dongeng, bisa didatangan ku kuring – Duh, betapa mengagumkan suasana gedung megah ini, biasa hanya sekedar dongeng, hari ini bisa kami kunjungi”, ujar Solahah (46), warga kampung adat Kampung Dukuh, Cikelet Kabupaten Garut.

Para tetua adat diantar Pangaping BOMA Jabar, Eka Santosa, siang itu menuturkan niatan menghelat FBMATS (Festival Budaya Masyarakat Adat Tatar Sunda) ke-2 pada 2 Mei 2015 di Kawasan Eko Wisata dan Budaya Alam Santosa, Pasir Impun Kabupaten Bandung. “FBMTAS kali ini khusus sifatnya, walau hanya satu hari. Dihadiri sekitar 500 mahasiswa asal Asia dan Afrika yang sebagian berstudi di Indonesia. Seni budaya dan kuliner, penyadaran lingkungan hidup, pemberian anugrah untuk para tokoh nasional maupun regional, kami helarkan disini”, tutur Jajang Sanaga, Tetua Kampung Adat Sanaga, Salawu Kabupaten Tasikmalaya.

Sementara itu Eka Santosa dalam kesempatan itu menjelaskan secara rinci rundown acara kelak (2/4/2015) mulai pukul 09.00 WIB hingga pukul 24.00 malam harinya. “Dengan izin khusus dari Polda Jabar, keramaian yang biasa disebut pinton ajen karancagean digelar dengan sangat unik. Prinsip hidup gotong-royong yang biasa hanya dibicarakan, oleh warga adat dipraktikkan dengan nyata. Mereka akan mulai datang ke Alam Santosa, bertahap seminggu sebelumnya. Mereka membawa perlengkapan sandang-pangan sendiri dari kampung adatnya”.

“Ini nuansa baru pada Peringatan ke- 60 Tahun KAA 1955. Masyarakat adat yang hadir, turut menggugah kita dengan sejumlah nilai budaya buhun. Kabar ini sudah banyak diketahui banyak pihak, mereka tertarik, tak sabar menghadirinya …”, sambut Dedi Sutardi, Kasi Pelestarian dan Dokumentasi MKAA (Museum Konferensi Asia Afrika).

KAA, Tak Bermakna?
Hal menarik lainnya usai pemaparan BOMA Jabar terkait niatan gelaran FBMATS ke 2, Wa Ugis Suganda, Tetua Adat dari Kampung Adat Sirna Resmi, Kabupaten Sukabumi beropini secara spontan tentang gebyar puncak acara Peringatan ke- 60 Tahun KAA 1955:”Kalau mau jujur, peringatan ini tak ada maknanya. Coba pikir, kehidupan kami sudah lebih dari 400 tahun, disana. Ini terbukti dari acara Seren Taun kami. Sedangkan usia republik kita baru 70 tahun. Saat penjajahan Belanda dan Jepang, kampung adat kami tak pernah diganggu hak ulayatnya. Eh, malah setelah RI merdeka, tanah ulayat kami dicaplok Perhutani, Taman Nasional Gunung Salak Halimun, dan lainnya. Sekarang kami, masih merasa dijajah. Sungguh aneh republik ini?! Galibnya, KAA ini untuk apa dan siapa, kami tak tahu maknanya?!”.

Tak pelak ujaran Wa Ugis yang menyentak ini beroleh applaus dari puluhan awak media. Begitu pun kala Jajang Sanaga, Ketua Harian BOMA Jabar ketika menuturkan pada sesi FBMATS ke- 2 kelak akan menyisipkan rajah (ritual doa ala warga adat – red.):”Ada ritual khusus patali banyu, menyatukan air dari sedikitnya 23 sumber mata air di kampung adat se Jabar. Airnya kami satukan di Pasir Impun. Isi doa rajah ini mohon kesembuhan bagi para pemimpin dan rakyat Indonesia, khususnya. Melihat situasi kali ini, kelihatannya bapak gede (pemerintah), sedang teu dameng wales (sakit keras -red). Makanya, kami tengok ke Bandung, layaknya pelayat kami doakan agar bapak gede lekas sembuh, agar ingat akan nasib rakyatnya! Bagi warga dua benua Asia dan Afrika kami doakan, agar damai dan sejahtera. Padahal, kami ini belum pernah ke Afrika sana. Yang kami tahu, hanya pohon afrika yang biasa kami tanam di kampung adat kami. Semogalah doa kami terkabul …”.

Keliling MKAA & Anugrah

Usai pemaparan dari BOMA Jabar tadi, seluruh anggotanya hari itu berkeliling ke bagian luar gedung Merdeka hingga ke bagian dalam MKAA. Menariknya, kala para Tetua Adat berdoa di seputar pelataran gedung Merdeka, sempat menarik kalangan umum. “Wow, dari manakah mereka yang berpakaian khas ini. Oh mereka sedang mendoakan kita ya? Terima kasih, dong kita didoain”, kata Erwina (30), pelancong asal Surabaya yang sempat menanyakan fenomena unik ini pada awak media yang meliput para tetua adat.

Momen menarik lainnya, kala para tetua adat yang kerap disapa Olot melihat-lihat dengan seksama aneka visualisasi dokumentasi KAA 1955 berupa potret tokoh PM China Chow En Lai, PM India Jawarharlal Nehru, hingga presiden RI pertama Ir. Soekarno di area MKAA:”Tah, ieu mah kami cinta pisan ka Pak Karno. Mun bisa mah anak-anakna ayeuna alalakur atuh, teu siga ayeuna – Nah, ini yang kami cintai Pak Karno. Kalau bisa anak-anaknya hidup rukun, jangan seperti sekarang”, ujar Bah Uluk Lukman, Tetua Kampung Adat Dukuh Garut Selatan dengan nada suara terus terang, sambil menunjuk foto “Putra Sang Fajar” yang secara tradisional sangat mereka hormati secara turun-menurun, tanpa kecuali!

Acara sisipin lain pada FBMATS ke-2, akan dilibatkan ratusan warga Pasir Impun Kabupaten Bandung sebagai tuan rumahnya. Tuan rumah ini akan menggelar tutungulan, pencak silat, dan demo permainan anak tradisional dari Komunitas Bancakan. Lainnya, menurut Ozenk, Ketua Panitia, pihak BOMA Jabar akan ada penganugrahan gelar kepada sejumlah tokoh. “Tentu, diberikan kepada pribadi yang telah menunjukkan kepedulian luar biasa bagi masyarakat adat dalam konteks keutuhan NKRI, diantaranya …”.

Rinciannya, diberikan kepada Wapres H. Jusuf Kalla sebagai Papayung Agung Nusantara; Anggota Wantimpres, Jan Darmadi sebagai Lanang Jembar Panalar; Guruh Soekarno Putra sebagai Pangagung Terah Sang Fajar, KSAL Marsekal Ade Sopandi sebagai Satria Samudra Nusantara; Menteri PANRB, Yuddy Chrisnandi, sebagai Nonoman Rancage Pinilih; dan Kapolda Jabar Irjen Pol M Iwan Iriawan sebagai Lanang Raksa Buana.

Lebih spesial lagi pada penganugrahan ini akan ditahbiskan seorang warga negara Perancis sebagai Duta Sawala Masyarakat Adat untuk benua Eropa. “Diberikan atas kasapukan (kesepakatan) para Olot kepada Didier Carre yang punya nama khusus dari BOMA Jabar sebagai Kang Didi Masagi. Firm, sejak 28 April 2015 Ia akan hadir bersama rekan-rekannya dari negeri Menara Eifel”, tutup Ozenk yang optimis helatannya akan diikuti sedikitnya oleh 23 kampung adat di Jabar. *Harri Safiari [085721273388]*

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.