Advertisement

Seniman Batik Pekalongan Jangan Sampai Ditinggalkan

Dibantu sang MC, Fatkhul Huda membentangkan selembar kain batik khas Pekalongan. Batik yang sangat cantik, dari kejauhan saya pandangi keindahannya dengan penuh kekaguman, "Sangat eksotik..." batinku. Dan yang membuat saya semakin terkagum-kagum, saat mendengar harganya. Selembar kain batik tulis Pekalongan yang sedang diperlihatkan di panggung dibanderol seharga 17,5juta!



Di atas panggung sederhana Cafe Demang pada acara #KopdarTemanAsyiiik kemarin (Sabtu, 7/11/2015) Karel Anderson, sang MC pun turut terperanjat mendengar nilai uang untuk batik berukuran 2,70 meter yang tengah dipegangnya tersebut. Akan tetapi, yang menarik dari sosok Fatkhul Huda sehubungan dengan aktifitasnya sebagai pelaku ekonomi kreatif di bidang batik tulis khas Pekalongan tersebut yaitu semangatnya.

Bapak muda dengan anak 3 ini takpernah pudar memperjuangkan batik tulis Pekalongan agar tetap lestari. Salah satunya yaitu memberikan apresiasi terhadap pengrajin, caranya para pengrajin supaya selalu membubuhkan namanya pada kain batik yang sudah diselesaikan (semacam tanda tangan alias signature), contohnya Jumilah.

Seniman Batik Pekalongan Jangan Sampai Ditinggalkan

Di dalam menulis batik, Jumilah memerlukan waktu 2 tahun. Hal ini menunjukkan sisi keuletan dan kesabaran dari pengrajin sekelas Jumilah.

"Njenengan bisa bayangkan, Jumilah dalam waktu 2 tahun terus menulis dan menggoreskan motif hokokai. Betapa Jumilah menunjukkan karakteristik, sosok dengan pribadi yang penuh keuletan,tekun dan hormat terhadap terhadap budaya leluhurnya,ini perlu diapresiasi" ujar Huda dengan penuh semangat.

Foto: Istimewa
Hal lain yang diangkat oleh suami dari Dewi Chumaeroh ini perihal pengabdian. Menurutnya, melestarikan Batik Pekalongan ini takhanya seninya saja, pengrajinnya pun harus diperhatikan. Para pengrajin batik sekaliber Jumilah tidak banyak, artinya penulis batik Pekalongan yang bisa mengreasikan maha karya yang bernilai hingga belasan juta yang terdapat di padepokan atau sanggar batik di tempat tinggal Huda hanya ada sekitar 6 orang saja. Kesejahteraan para pengrajin inipun tidak serta-merta mapan. "Bisa dibilang dari tahun ke tahun takbanyakperubahan,dan untuk diberi gelar seniman pun rata-rata para pengrajin ini takpercaya diri," ungkap ayah dari Nesya, Varo dan Farrel ini.

Tantangan lain yang dihadapi oleh batik Pekalongan yaitu adanya industri massif berupa batik cetak. Inilah yang dilakukan oleh pihak-pihak pemilik modal yang bisa mematikan seni batik warisan leluhur di Pekalongan. Tentu saja ini pil pahit bagi Huda dan Jumilah serta orang-orang di belakang mereka.

Tantangan lain yang masih juga dihadapi oleh Fatkhul Huda adalah persoalan harga bahan baku yang kian melambung. "Kapas hingga saat ini masih saja import. Lalu kain mori yang berkualitas supaya menghasilkan batik tulis yang baik dan bernilai pun selalu saja takmenentu, cenderung fluktuatif," ujar Huda dengan nada lirih.

Inilah yang menyulitkan umumnya perajin batik tulis Pekalongan. Sebuah kondisi yang tidak akan dirasakan oleh pemilik industri tekstil besar, mereka (industri-red) dengan mudah memproduksi batik print (cetak) secara massaldengan harga yang lebih murah dari batik tulis Pekalongan yang asli. Atas dasar semua inilah Fatkhul Huda mencoba untuk mewadahi para pengrajin dan berusaha terus mengangkat potensi seniman-seniman batik tulis Pekalongan.


Lalu apa peran penentu kebijakan di Pekalongan? Di Indonesia? Hal ini perlu diperhatikan. Semua ini perlu peran semua pihak dengan kemampuannya masing-masing. Fatkhul Huda sudah berusaha dengan segenap waktu dan pikirannya agar Seniman Batik Pekalongan Jangan Sampai Ditinggalkan, nah kini tinggal kita, pembaca ... 

Intermezzo:

Batik Famoli ~ Jual Aneka Kerajinan Batik Tulis
M. Fatkhul Huda
Telp./SMS: 085642502592
Whatsapp: 081225744693

Sanggar Batik Tulis Pekalongan Famoli:
Jl. Raya Wiradesa - Bojong
Ds. Petukangan
RT.03/RW. 01
Pekalongan

---
Sumber foto signature Jumilah:http://www.kompasiana.com/syaifuddin/huda-dan-mimpi-batik-pekalongan_563f0cc71eafbd3c078cf32a

6 komentar:

Kang Arul mengatakan...

emang cakep batik buatan tangan....

Ade Truna mengatakan...

iya laki-laki harus cakep #eh #terkobelisasi:D

Ahmed Tsar mengatakan...

2 tahun proses Membatik Kedungwuni, baru selesai, makanya Mahal dan kereen pula Kang

Unknown mengatakan...

Keren reportasenya om

Ade Setiadi Truna mengatakan...

iya bro...Kedungwuni ya nama motif yang ditulis oleh Ibu Jumilah di atas? Thx :)

Ade Setiadi Truna mengatakan...

tirimikisiii :D

Diberdayakan oleh Blogger.